Tak Ada Gading yang Tak Retak
Tadi saya naik kereta, turun di Kalibata. Lalu naik ojek menuju tempat ngamen, dengan hati senang. Pertama, tidak macet. Kedua, tukang ojek ramah sekali. Dia sesekali bersiul. Saya selalu suka orang yang bersiul saat bekerja. Sepanjang perjalanan dia banyak cerita soal telapak tangannya yang sering berkeringat secara berlebihan. Saya juga cerita soal tangan saya yang terlampau kering dan nyaris tidak pernah berkeringat, hal yang membuat jari licin, sehingga saya selalu menjilat jari saya supaya basah, agar pick gitar tidak jatuh. Saya suka tukang ojek ini. Dia bekerja dari pagi, tapi kebugaran fisik dan mood -nya seperti orang yang baru keluar rumah setelah sebelumnya mandi dan makan kenyang. Seorang pejuang yang mencintai pekerjaan. Saya selalu bahagia bisa bertemu dengan jenis orang seperti ini: sebagai penghibur hati dan sumber pelajaran hidup. Akan tetapi, tak ada gading yang tak retak. Saya sangat tersiksa dengan helm yang saya pakai. Bagian depannya sangat turun, posi...